beranda

Thursday, 11 February 2016

SAATNYA AKU MENINGGALKANMU KSM & PKH KAB PASURAUN

SAATNYA AKU MENINGGALKANMU KSM & PKH KAB PASURUAN
(AKU BANGGA BERSAM PKH)
FOTO KENANGAN DI DESA SUKORENO

Hari  jum’at 4 Desember 2015, pk. 09.00. Aku bersama teman teman Pendamping PKH di panggil untuk menghadap Ibu kabid PKH Kab pasuruan, Ibu Prapti. Aku sudah menyiapkan Jawaban apa yang akan di tanyakan padaku dan teman-teman pendamping yang lain. Ternyata betul apa yang selama ini menjadi desas- desus tentang double Job, Memang itu yang di tanyakan. Karena aku sudah siap dengan segalah keputusan yang akan aku ambil . Ketika tiba giliranku di tanya oleh ibu Kabid tentang pilihanku , antara Pilih Pendamping PKH atau Tetap menjadi Guru plus sertivikasi. Aku tetap pada pendirianku yaitu pilih Guru sertivikasi, dengan demikian aku harus melepas statusku sebagai pendamping PKH Kecamatan Prigen kabupaten Pasuruan, yang sudah enam tahun kujalani. Terus terang Antara sosial dan Pendidikan adalah ibarat dua keping mata uang yang tidak bisa di pisahkan. Sebenarnya aku merasa berat meninggalkan PKH, karena aku sudah mendapatkan banyak hal , selain tentu saja salery yang lumanyan, aku juga bisa melihat secara langsung kondisi KSM, berdekatan ,bercanda dengan KSM dan merasakan penderiataan KSM. Ini yang memberatkan aku keluar dari PKH. Aku tak bisa lagi ngobrol sambil minum secangkir kopi dan sepotong singkong goreng, Tak ada lagi yang memaksaku untuk membawa pulang kripik gadung, buah nangka, durian, petai dan lain-lain untuk keluargaku. Semuanya diberikan dengan ikhlas padaku. Karena ini sebuah aturan dan sebuah pilihan aku harus pilih salah satu yaitu kembali ke habitatku sebagai seorang pendidik, dan aku tak akan meninggalkan jiwa sosialku yang selalu perhatian dan peduali terhadap kaum duafa. Terimakasih bapak Kepala Desa/Lurah di kecamatan Prigen, Bapak /ibu Kepala sekolah SD/MI, SMP/MTs di kecamatan Prigen, Ibu Bidan di Kecamatan Prigen, mohon maaf Ibu Bidan Sukoreno dan Dayu Rejo atas kemarahanku waktu absensi . Mohon maaf apa bila selama ini tutur kata dan tingkah polahku membuat ketidak nyamanan ,Ibu Prapti, Bpk Edy, teman-teman pendamping dan Operator PKH Kabupaten Pasuruan,  Salam satu Jiwa. Sonhaji Sekeluarga.



MENUMBUHKAN JIWA ENTREPRENEURSHIP PADA SISWA DIDIK
Oleh : Ki. Sonhaji mutiallah

Waktu kita masih sekolah di Taman kanak-kanak  dan sekolah dasar , dan ketika di tanya oleh seorang guru tentang cita-cita, hampir semua teman-teman saya menjawab bila besar kelak ingin menjadi seorang dokter, polisi, tentara, dan guru . Begitu juga orang tua kita dulu sangat mengharap agar anaknya kelak menjadi salah satu profesi tersebut atau pegawai negeri sipil (PNS) . Dan tak satu pun yang menginginkan anaknya kelak menjadi wirausahawan/Entrepreneurship. Mereka beranggapan bahwa menjadi orang gajian atau pegawai lebih terhormat di banding wirausahawan. Seringkali istilah wirausahawan masih belum dianggap sebagai pekerjaan, bahkan sampai sekarang masyarakat masih banyak yang memandang pegawai kantoran yang bekerja dari pagi hingga malam lebih terhormat, tetapi wirausahawan, apalagi kalau masih tingkat kecil, masih dipandang sebelah mata.
Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga mengatakan, bahwa jumlah pengusaha di Indonesia hanya sekitar 1,65 persen dari jumlah penduduk saat ini. Kita kalah jauh dibandingkan dengan negara tetangga. Misalnya Singapura sebesar tujuh persen, Malaysia lima persen, dan Thailand empat persen. Ide untuk memasukkan aspek kewirausahaan di sekolah merupakan hal yang tidak bisa ditawar lagi, katanya. Sebab kemampuan wirausaha membuat seseorang bisa mandiri bahkan bisa menciptakan lapangan kerja. Selain itu Presiden Republik Indonesia Joko widodo mengatakan bahwa peran wirausahawan dalam sektor bisnis mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi nasional. Bapak Joko Widodo juga optimis ekonomi negara Indonesia akan besar, kalau wirausahawan maju. Beliau juga memberikan  peluang seluas-luasnya untuk mengembangkan usahanya.( 12/3/15.Jawa Pos).

Apa itu Entrepreneurship?
Istilah Entrepreneurship pertama kali oleh Richard Cantillon, seorang ekonom Irlandia yang berdiam di Perancis pada abad ke-18 . Dia mendefinisikan entrepreneurship sebagai, “ The agent who buys means of production at cerium prices in order to combine them into a new product”. Dia menyatakan bahwa entrepreneur adalah seorang pengambil resiko. Tidak lama kemudian J. B Say dari Perancis menyempurnakan definis Cantillon menjadi, “ One who brings other people together in order to build a single productive organisnm”. Artinya entrepreneur menempati fungsi yang lebih luas. Yaitu seorang yang mengorganisasikan orang lain untuk kegiatan . Pengertian  Entrepreneurship secara umum adalah jiwa kewirausahaan yang di bangun bertujuan untuk menjembatani antara ilmu dengan kemampuan pasar. Entrepreneurship meliputi pembangunan/pembentukan sebuah perusahaan baru, kegiatan kewirausahaan juga merupakan kemampuan managerial yang diperlukan oleh seorang entrepreneur.
Beberapa tahun terakhir ini, kata entrepreneurship menjadi perbincangan di kalangan perguruan tinggi. Hal ini tidak terlepas dari adanya fenomena banyaknya lulusan perguruan tinggi yang menganggur, karena jumlah lulusan tidak sebanding dengan lapangan kerja yang tersedia. Kondisi ini mendorong para praktisi pendidikan di perguruan tinggi untuk melakukan reorientasi terhadap lulusan yang dinilai semata-mata disiapkan sebagai pencari kerja, bukan pencipta kerja.
Disaat kondisi negara yang sedang berbenah dan menyiapkan tenaga-tenaga muda untuk di didik menjadi entrepreneur, akhir tahun 2015 kemarin , diberlakukannya pasar bebas Asean, yang mau tidak mau harus kita ikuti. Karena Pasar bebas Asean adalah kesepakatan para pemimpin Asean untuk membentuk sebuah pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara pada akhir tahun 2015. Dengan tujuan agar daya saing Asean meningkat  serta bisa menyaingi Cina dan India untuk menarik investor asing. Penanaman modal asing di wilayah ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan. Pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini nantinya memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tengara sehingga kompetisi akan semakin ketat. Masyarakat Ekonomi Asean tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara, akuntan, dan lainnya. Jadi MEA akan lebih membuka peluang tenaga kerja asing untuk mengisi berbagai jabatan serta profesi di Indonesia yang tertutup atau minim tenaga asingnya.Yang menjadi persoalan sekarang adalah Mampukah tenaga kerja Indonesia bersaing dengan negara-negara di Asia Tenggara?

Menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini !
Untuk menjawab sebuah tantangan terhadap persaingan pasar bebas Asean (MEA), kita harus menanamkan jiwa entrepreneuship/ kewirausahaan sejak dini. Upaya untuk memasukkan aspek kewirausahaan di sekolah telah lama diusahakan. Banyak sekolah dasar, terutama di kota-kota besar yang telah memasukkan aspek kewirausahaan di sekolah sebagai acara puncak dari sebuah tema pembelajaran. Misalnya acara bazar atau pasar murah yang berlangsung di sekolah. Sayangnya yang jadi pelaku bisnisnya adalah orang tua siswa. Sementara siswa hanya duduk menonton dan belanja, tanpa menjadi pelaku aktif. Padahal saat itu adalah saat yang tepat untuk membuat siswa mempunyai keterampilan menjual dan memasarkan sesuatu. Sebenarnya pembelajaran di sekolah kalau kita cermati masih mengandung aspek kewirausahaan, keduanya saling berhubungan dan saling berkaitan satu sama lain. Suatu misal, dalam berwirausaha seseorang butuh untuk menghitung laba dan rugi itu butuh(keterampilan matematika), meyakinkan pelanggan butuh (penguasaan bahasa )yang baik, untuk promosi yang menarik dan mengatur kemasan atau display barang dagangan di butuhkan (keterampilan seni rupa), dan membuat perhitungan keluar masuk barang butuh (ilmu komputer). Dengan menjadikan kewirausahaan ini sebagai bagian dari pembelajaran, membantu para guru untuk mengintegrasikan beberapa mata pelajaran dan membuat pembelajaran dikelas bermakna. Keberadaan guru sangat penting dan berarti bagi siswa didik untuk menumbuhkan jiwa entrepreneurship. Walupun tidak semua guru punya jiwa entrepreneurship, tapi  seorang guru bisa menyiasati dengan banyak baca buku tentang entrepreneurship, dan bisa brouching di internet , misal tentang perjalanan pengusaha . Saya sendiri sering  sebelum pelajaran di mulai atau menjelang pelajaran usai memberikan pengetahuan tentang entrepreneurship dan menceritakan tentang perjalanan seorang pengusaha sukses yang dimulai dari bawah/nol pada siswa didik. Memberikan pelatihan tentang marketing online, dengan mengajari siswa didik membuat blog free/gratis, sehingga siswa didik dapat menawarkan barang secara online di internet tanpa mengeluarkan biaya yang mahal. Kebetulan saya mengajar ekstra Cooking Class, siswa didik saya ajari membuat produk masakan, minuman atau kue, sekalian kita ajari cara menjual ke lingkungan sekolah, teman dan gurunya. Ternyata banyak yang tertarik dan menjual makanan di sekolah, bahkan produk kue buatan orang tuanya berani di jual di sekolah, padahal mereka masih sekolah menengah pertama dalam artian nonvacation. Semua ini sebagai pembuka cakrawala bagi siswa didik agar tertarik dan merubah mindsetnya untuk menjadi seorang entrepreneurship. Memang tidak mudah, tapi minim kita sudah menanamkan jiwa entrepreneurship pada siswa didik. Selain guru, sekolah merupakan dasar didalam membentuk karakter, kepribadian, dan pengetahuan pada generasi muda. Di sekolah mereka diajarkan berbagai ilmu seperti berhitung, pengetahuan alam, pengetahuan sosial, kewarganegaraan dan kebudayaan daerah. Di samping itu, karakter dan kepribadian mereka juga dibentuk, seperti berlatih bersikap jujur, bertanggungjawab, tolong menolong dan lain-lain. Oleh karena itu, sekolah dapat menjadi salah satu sarana yang cukup penting dalam menanamkan jiwa kewirausahaan sejak dini. Karena dalam diri siswa didik akan muncul sikap tanggungjawab, kreativitas dan mampu mengambil keputusan. Sifat tersebut merupakan modal bagi keberhasilan hidup anak saat ia dewasa.
Gambaran masa depan dunia yang menuntut munculnya jiwa wirausaha pada tiap individu tak dapat disangkal lagi. Persaingan global antar bangsa yang tak mengenal batas antar negara menuntut setiap orang untuk kreatif memunculkan ide-ide baru. Maka mempersiapkan anak agar mempunyai jiwa wirausaha, agaknya jadi satu hal yang penting dilakukan oleh orangtua dan lingkungannya.
Selain guru, sekolah , orangtua adalah pihak yang bertanggungjawab penuh dalam proses ini. Anak harus diajarkan untuk memotivasi diri untuk bekerja keras, diberi kesempatan untuk bertanggungjawab atas apa yang dia lakukan. Semua ini perlu proses dan latihan, dan latihan wirausaha ini sebenarnya tidaklah rumit. Bentuknya bisa sederhana dan merupakan bagian dari keseharian anak, wirausaha bukan hanya urusan membuat produk, bukan hanya menjual atau membeli, tapi banyak hal lain yang kita ajarkan pada anak. Misalnya mengajarkan anak untuk mampu mengelola uang dengan baik. Terangkan pada anak, dari mana uang yang dipakai untuk kebutuhan rumah tangga, biaya sekolah dan kebutuhan lainnya. Jelaskan bahwa untuk mendapatkan uang tersebut, orangtua harus bekerja keras. Uang hanya boleh di gunakan untuk kebutuhan yang benar-benar perlu. Dengan demikian anak akan menjauhi sikap konsumtif. Selain itu anak juga harus di ajari berhemat dengan menabung, tidak boros dalam membelanjakan uang, tetapi orangtua juga harus konsisten dengan apa yang telah diajarkan pada anaknya. Ini adalah salah satu dari banyak cara dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan pada siswa didik, sehingga tidak menunggu beranjak ke perguruan tinggi. Dengan pemberian pengetahuan kewirausahaan sejak dini, maka otomatis anak-anak dengan sendirinya sudah mengenal dunia usaha bahkan siap untuk memulai usahanya walaupun secara kecil-kecilan.

Pemerintah tentu perlu secara konsisten membantu dan mendukung sekolah atau lembaga formal dalam menyelenggarakan entrepreneurship. Sebab sekolah merupakan garda terdepan dalam membentuk generasi muda, sehingga perlu pula mendorong kewirausahaan sejak dini. Kewirausahaan memiliki peranan yang sangat penting dalam menggerakkan perekonomian negara. Seorang wirausahawan dapat menciptakan lapangan pekerjaan, membuka peluang baru dalam memakmurkan masyarakat, serta memacu produktivitas dalam membuat produk inovatif yang dapat diserap oleh pasar. Bangsa Indonesia membutuhkan generasi wirausahawan/entrepreneur muda yang dapat memperbaiki dan menggerakkan perekonomian negara menjadi lebih baik. Semogah.

Monday, 5 January 2015

PERLU KEARIFAN PENYIKAPAN PERUBAHAN KURIKULUM



MENYIKAPI PERUBAHAN KURIKULUM DENGAN ARIF
OLEH ; KI. SONHAJI MUTIALLAH

Beberapa hari ini kita diributkan tentang perubahan kurikulum oleh Menteri Pedidikan Dasar dan Menengeh Anies baswedan. Perubahan yang begitu cepat dan menghebohkan dunia pendidikan di Indonesia , menuai Pro dan kontra. Sebenarnya perubahan kurikulum itu hal yang lumrah dan harus dilakukan agar menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan membawa peningkatan mutu pendidikan . Hanya saja perubahan kurikulum 2013 yang di lakukan oleh Menteri Pendidikan Kabinet Indonesia Hebat , begitu cepat sekali. Karena kurikulum 2013 baru saja diuji-cobakan pada tanggal 15 Juli 2013. Sehingga banyak mengejutkan masyarakat dan juga membingungkan tidak saja dunia pendidikan, kepala sekolah, guru , dan siswa juga di bikin bingung.

Sebenarnya publik sudah biasa menaggapi fenomena ini bahwa “Ganti Menteri, Ganti Kurikulum”. Kenyataan ini sudah terjadi dalam kurun waktu yang lama. Mulai kurikulum pertama kali tahuan 1947 hingga kurikulum 2013, hanya saja perubahan kurikulum yang di lakukan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Anis Baswedan sangat cepat dan kurang tepat. Sehingga banyak menuai protes dan banyak masyarakat yang beranggapan sarat nuansa politik. Perubahan kurikulum selalu berimplikasi besar terhadap masyarakat, terutama menyangkut biaya yang harus dipikul untuk membeli buku-buku baru, maka perubahan kurikulum selalu membawa kehebohan tersendiri di masyarakat.
Kita perlu mengetahui mengapa kurikulum 2006 itu di ganti? Karena berdasarkan amanat dari RPJMN 2010-2014 sektor pendidikan, serta Inpres No 1 tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan nasional: Penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran Aktif berdasarkan Nilai-nilai Budaya Bangsa untuk Membentuk Daya saing Karakter bangsa. Selain  itu kurikulum 2006 (KTSP) masih banyak kekurangan antara lain; (1) konten kurikulum yang masih terlalu padat yang ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi yang keluasan dan tingkat kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak;(2) belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional; (3) kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan dan pengetahuan; beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan(misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan)  belum terakomodasi di dalam kurikulum; (4) belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global; (5) standart proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru;(6) standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil) dan belum secara tegas menuntut adanya remidiasi secara berkala; dan (7) dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi tafsir(draft Kurikulum2013). Inilah yang menjadi analisis dan kajian tim M. Nuh untuk mengganti Kurikulum 2006(KTSP) menjadi kurikulum 2013.

Sejak wacana pengembangan kurikulum 2013 digulirkan, muncul pro dan kontra dari berbagai kalangan  baik para pakar , praktisi maupun masyarakat umum.. Wacana pro dan kontra menunjukkan bahwa mereka memiliki kepedulian dan begitu pentingnya perkembangan sistem pendidikan di negeri ini dalam menyiapkan generasi yang akan datang, dan dalam rangka menyongsong era globalisasi yang semakin kompetitif dan berorientasi pada keunggulan. Kurikulum mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi tantangan-tantangan di masa depan melalui pengetahuan, keterampilan, sikap dan keahlian untuk beradaptasi serta bisa bertahan hidup dalam lingkungan yang senantiasa berubah. Waktu itu M. Nuh mengatakan bahwa kurikulum 2013 merupakan persoalan yang penting dan genting, Alasan perubahan kurikulum pendidikan harus disesuaikan dengan tuntutan zaman. Karena zaman berubah, maka kurikulum harus lebih berbasis pada penguatan penalaran, bukan hanya hafalan semata. Perubahan ini diputuskan dengan merujuk hasil survei internasional tentang kemampuan siswa Indonesia. Salah satunya adalah survei”trends in International Math and Science” oleh Global Institute pada tahun 2007. Menurut survei ini, hanya 5 persen siswa Indonesia yang mampu mengerjakan soal berkategori tinggi yang  memerlukan penalaran. Sebagai perbandingan, siswa Korea yang sangup mengerjakannya mencapai 71 persen. Sebaliknya , 78 persen siswa Indonesia dapat mengerjakan soal berkategori rendah yang hanya memerlukan hafalan. Sementara itu, siswa Korea yang bisa mengerjakan soal semacam itu hanya 10 persen. Indikator lain datang dari Programme for International Student Assessment(PISA) tahun 2009, menempatkan Indonesia di peringkat 10 besar paling buncit dari 65 negara peserta PISA. Kriteria penilaian mencakup kemampuan kognitif dan keahlian siswa membaca, matematika dan sains. Inilah yang mendasari M. Nuh untuk melakukan perubahan Kurikulum 2006 (KTSP) menjadi kurikulum 2013 . Pengembangan kurikulum 2013 menitikberatkan pada penyederhanan, pendekatan tematik integratif dilatarbelakangi oleh  masih terdapat beberapa permasalahan pada kurikulum 2006(KTSP).

Pengembangan kurikulum 2013 untuk meningkatkan capaian pendidikan dilakukan dengan dua strategi utama yaitu peningkatan efektivitas pembelajaran pada satuan pendidikan dan penambahan waktu pembelajaran di sekolah. Efektivitas pembelajaran dicapai melalui tiga tahapan yaitu  efektivitas interaksi, efektivitas pemahaman, dan efektivitas penyerapan. (1) Efektivitas interaksi akan terwujud dengan adanya harmonisasi iklim atau atmosfir akademik dan budaya sekolah. Iklim atau atmosfir akademik dan budaya sekolah sangat kental dipengaruhi oleh menejemen dan kepemimpinan kepala sekolah beserta jajarannya. Efektivitas interaksi dapat terjaga apabila kesinambungan menejemen dan kepemimpinan pada satuan pendidikan. Tantangan saat ini adalah sering dijumpai pergantian menejemen dan kepemimpinan sekolah secara cepat sebagai efek adanya otonomi pendidikan yang sangat dipengaruhi oleh politik daerah. (2) Efektivitas pemahaman menjadi bagian penting dalam pencapaian efektivitas pembelajaran. Efektivitas pembelajaran dapat tercapai apabila pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal siswa melalui observasi( menyimak, mengamati, membaca, mendengar), asosiasi, bertanya, menyimpulkan dan mengkomunikasikan. Oleh karena itu penilaian berdasarkan proses dan hasil pekerjaan serta kemampuan menilai sendiri. (3) Efektivitas penyerapan dapat tercapai ketika adanya kesinambungan pembelajaran secara horisontal dan vertikal. Kesinambungan pembelajaran secara horizontal bermakna adanya kesinambungan mata pelajaran dari kelas I sampai dengan kelas VI pada tingkat satuan pendidikan SD,  kelas VII sampai dengan IX pada tingkat satuan SMP dan kelas X sampai dengan kelas XII tingkat SMA/SMK. Selanjutnya kesinambungan pembelajaran vertikal bermakna adanya kesinambungan antara mata pelajaran pada tingkat satuan pendidikan SD, SMP, sampai dengan satuan pendidikan SMA/SMK. Sinergitas dari ketiga efektivitas pembelajaran tersebut akan menghasilkan sebuah transformasi nilai yang bersifat universal, nasional dengan tetap menghayati kearifan lokal yang berkembang dalam masyarakat Indonesia yang berkarakter mulia. Inilah yang ingin di capai oleh M. Nuh, dalam kurikulum 2013.
Apapun kelebihan dari kurikulum 2013, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan tetap akan merubah , dan memerintahkan sekolah untuk menggunakan kembali kurikulum 2006. Keputusan ini berdasarkan fakta bahwa sebagian besar sekolah belum siap melaksanakan Kurikulum 2013 karena beberapa hal, antara lain masalah kesiapan buku, sistem penilaian, penataran guru, pendampingan guru, dan pelatihan kepala sekolah. Di sebutkan oleh Menteri Anies melalui surat edaran kepada kepala sekolah di seluruh Indonesia , Minggu 7 Desember 2014. Bahwa pendidikan Indonesia diakuinya sedang menghadapi masalah yang tidak sederhana terkait kurikulum ini. Kurikulum 2013 diproses secara amat cepat dan bahkan sudah ditetapkan untuk dilaksanakan di seluruh Tanah Air sebelum kurikulum dievaluasi secara lengkap dan menyeluruh.

Hanya saja rekomendasi tim evaluasi implementasi kurikulum yang memberikan dua pilihan yaitu; (1) sekolah yang baru menerapkan kurikulum 2013 selama satu semester, dipersilahkan kembali ke kurikulum 2006 pada semseter genap, tahun ajaran 2014/2015; (2) sekolah yang telah menerapkan kurikulum 2013 selama tiga semester terakhir tetap boleh melanjutkan pengajaran kurikulum tersebut. Namun jika ada sekolah yang keberatan, dengan alasan ketidak siapan dan demi kepentingan siswa, dapat mengajukan diri kepada Kemdikbud untuk dikecualikan. Inilah yang membingungkan kita semua dan masih debatable di kalangan guru /pendidik disekolah.. Tapi kita tidak boleh berburuk sangka, kita harus menyikapi secara bijak dan arif atas perubahan yang dilakukan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah bapak Anies Baswedan. Semua pasti ada kelebihan dan kekurangan. Namun, dalam mengimplementasikan kurikulum , yang jauh lebih penting adalah Guru sebagai ujung tombak dan sebagai garda terdepan dalam pelaksanaan kurikulum. Oleh karena itu betapa pentingnya kesiapan guru dalam mengimplementasikan kurikulum itu selain kompetensi, komitmen dan tanggungjawabnya serta kesejahteraannya yang harus terjaga. Kompetensi guru bukan saja menguasai apa yang harus dibelajarkan (content) tapi bagaimana membelajarkan siswa yang menantang, menyenangkan, memotivasi, menginspirasi dan memberi ruang kepada siswa untuk melakukan keterampilan proses yaitu mengobservasi, bertanya, mencari tahu, dan merefleksikan. Buatlah sekolah sebagai sebuah Taman Yang menyenangkan yang selalu dirindukan oleh siswa didik sebagaimana ajaran Ki Hajar Dewantara. Kurikulum memang penting , tetapi tak kalah pentingnya juga adalah bagaimana strategi pembelajaran dan spiritnya. Dengan strategi pembelajaran yang tepat dalam mengimplementasikan kurikulum disertai dengan spirit pendidikan yang selalu menggelora pada setiap guru atau pendidik dan peserta didik, maka proses pendidikan itu sendiri tidak akan terlepas dari rohnya. Betapapun baiknya kurikulum yang telah dikembangkan, buku pelajaran, dan media pembelajaran disediakan serta dilaksankan diklat baik Kepala Sekolah, Pengawas, Guru Inti, Guru Pelatih atau pun Guru senior pada akhirnya berpulang kepada ada tidaknya kemauan untuk berubah(willingness to change) dari para pemangku pendidikan. Sambutlah perubahan Brow…

Saturday, 22 November 2014

KISAH INSPIRATIF (BANGKIT DARI SEBUAH KEGAGALAN)




BANGKIT DARI SEBUAH KEGAGALAN
OLEH : KI SONHAJI MUTIALLAH
Saat terindah di pelaminan bersama keluarga istriku
Naik becak dari kediaman mertua menuju gedung pertemuan ini yg kita inginkan berdua

Tahun 2001, tepatnya tanggal 16 september Aku menikah dengan gadis pilihanku sendiri yang bernama Apriyanti Yuniar ,asal dari desa Krian- Sidoarjo. Waktu itu aku masih bekerja di Hotel Resort Tuban Tropis Tuban sebagai Supervisor Restoran, dan juga nyambi kerja sebagai penyiar Radio FIDIA FM Tuban. Biasanya aku mulai siaran pk. 23.00 malam, sepulang kerja di hotel hingga subuh. Alhamdulillah kehidupannku waktu itu lumayan mapan . Setelah menikah aku ingin kerja dekat dengan Istriku, Dia tinggal di desa Krian bersama kedua orang tuanya, karena istriku anak ragil harus mendampingi orang tuanya, akhirnya aku mengalah harus pindah kerja yang dekat dengan istriku. Kebetulan temanku yang dulu sama-sama kerja di Hotel Resort Tuban Tropis, Bapak Joko namanya Pindah ke Hotel STL Surabaya sebagai Front Office manager, Dia menawariku bekerja di sana yang kebetulan lowogan Night Duty Manager lagi kosong. Setelah Aku melamar dan di Tes oleh Direkturnya sendiri yang waktu itu anak Ownernya . Alhamdulillah aku di terima , aku sangat bersyukur waktu itu bisa kerja dekat dengan Istri , dengan posisi jabatan naik , yang tentu gaji juga naik, bangga rasanya waktu itu.
Ketika ku jalani tiga bulan , aku merasah tidak kerasan karena tidak nyaman , managemen hotel bagiku kurang baik, tdk menganut standart operasional prosedur hotel pada umumnya, bahkan istri ownernya ikut campur dalam operasioanal, sehingga standarnya dia yang menentukan. Akhirnya aku keluar dari Hotel tersebut , Istri  hamil tiga bulan anak pertamaku anak yang bernama Muhammad Ghozal Izzulhaq Mutiallah. Aku keluar dari Hotel dan istriku juga sudah keluar duluan  dari perusahaan, sehingga sama-sma pengangguran, otomatis tidak ada pemasukan keuangan. Sambil mencari lowongan kerja aku membantu kakak Iparku yang bernama Iwang (alwarhum) yang jualan bakso di Jl. Residen pamuji, aku bantu cuci mangkok dan bungkusi saos dan sambal, alhamdulillah satu minggu di gaji Rp.50.000. hingga anakku lahir aku belum juga dapat pekerjaan, padahal sudah puluhan Pabrik, Hotel aku masuki lamaran, tapi tak  ada satu pun panggilan. Aku hampir putus asah , malu sama mertua aku tidak bisa memberikan nafkah pada keluarga, malah aku ikut dompleng makan bersama istriku. Hidup terasah tidak tenang , mau makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, pingin nonton TV tunggu mertua keluar atau tidur, padahal sebenarnya mertua baik, cuman perasaan aku sendiri  yang tidak enak, pokoknya hidup ibarat orang jawa “ancek-ancek eri”.
Kadang aku merasa frustasi dan putus asah, dengan keadaan itu, bahkan aku sempat berontak dan menyalahkan Tuhan waktu itu, karena aku sudah berusaha mencari pekerjaan kemana-mana tidak ada, lewat koran, saudara , teman, dan puluhan pabrik, hotel sudah ku masuki tak ada satu pun panggilan .Aku seakan-akan seperti orang yang tak berguna, karena tidak bisa memberikan nafkah pada keluarga. Istri dan anakku yang baru lahir. Ditengah malam aku selalu shalat malam dan  berdo’a agar aku di berikan jalan kemudahan untuk mendapatkan pekerjaan. ketika shalat malam usai , aku ucapkan salam, dan ketika ku hadap kanan di samping tempat tidurku, aku melihat ada seorang bayi, yang membutuhkan susu, dan ibunya yang membutuhkan makan dan asupan Gizi. Aku menangis sejadi-jadinya…..hingga membangunkan istriku yang terlelap tidur karena capek selalu di bangunkan sang bayi. Istriku berkata ! sudahlah, jangan terlalu dipikir, kita sudah berdo’a dan berusaha pasti nanti ada jalan, kata –kata istriku inilah menenangkan hatiku..   
Hingga satu tahun aku menganggur, aku berfikiran ingin buka usaha sendiri, kecil kecilan, karena cari pekerjaan susah dan sudah tidak ada tempat lagi. Aku tidak tahu tiba-tiba aku berfikiran ingin buka usaha Tambal ban, pasti tidak sukar dan tidak butuh biaya banyak dan  aku lihat di desa kelahiranku Desa Ledug memang waktu itu belum ada orang buka tambal ban padahal sudah banyak orang memakai sepeda motor. Selain itu aku pikir biayanya paling gak banyak hanya butuh pumpa dan pemanas, sama cukitan ban. Tapi yang jadi masalah aku tidak bisa karena aku tidak punya pengalaman sama sekali.Tapi aku sudah tekat bulat ingin buka tambal ban walau banyak saudara ,istri juga mertua tidak setuju, sebab aku seorang sarjana dan juga pernah menjadi manager, kok jadi seorang tambal ban tak ada lagi pekerjaan yang lebih baik dan lebih terhormat, katanya!. Tapi aku gak peduli dengan semua itu, karena dalam fikiranku yang penting aku bisa menghasilkan uang dengan cara yang halal, biarlah statusku masa lalu hanya bagian dari sejarahku. Niat bulatku aku wujudkan , ketika pulang dari rumahku aku mampir di salah satu tambal ban, aku pura-pura ban ku bocor,agar aku bisa lihat cara menambal ban, usai tambal , aku ajak ngobrol si tukang tambal ban sambil aku belikan sebungkus rokok gudang garam, agar dia mau membuka omongan dan mau mengajariku. Ternya betul dia mau. Hingga ada waktu aku datang ke Mojosari untuk belajar pada si tukang tambal ban tersebut, kalau tidak salah hanya empat kali saya di ajari.
Setelah saya merasa bisa ,saya izin sama istri dan mertua untuk pulang kampung, kebetulan istri saya tidak saya ajak karena saya masih dompleng di  rumah kakak saya. Hanya bekal sisa tabungan, saya sewa tanah kosong di tepi jalan, lalu saya bangun lapak tambal ban, waktu itu hanya bekal niat untuk mencari nafkah, aku mulai buka tambal ban. Pada awalnya banyak saudaraku yang sewot melihat aku tambal ban, mereka banyak yang malu, punya saudara tambalan ban, padahal aku sendiri merasa enjoy tidak ada perasaan malu sedikitpun. Bahkan yang masih terngiang di telingaku ada seorang pengusaha bunga namanya KRL yang mengatakan pada temanku” anakku tidak akan saya kuliahkan /menjadi sarjana kalau hanya nanti menjadi tukang tambal ban seperta saya, katanya.” kata-kata ini terus teringiang-di telingaku , semua ini aku jadikan cambuk dan memacu ku untuk terus maju, sambil tambal ban aku tetap mengasah pikiranku dengan rajin membaca buku-buku kuliahku dulu, dan kadang satu minggu sekali beli koran agar tidak ketinggalan berita dan wawasan. Yang menjadi pengalamanku dan tak ku lupakan , awal ada orang tambal ban , aku sangat senang sekali dengan sedikit grogi aku lakukan tambal ban. Anehnya setelah selesai tambal aku lepas ban dari pemanas, tiba-tiba Bannya berlubang karena terlalu lama sehingga terbakar. Akhirnya aku harus tanggung jawab, maka aku beli ban baru dengan harga Rp.23.000  di potong biaya tambal Rp.3.000. Tapi alhamdulillah satu tahun  berlalu tambal banku semakin ramai akhirnya aku juga bisa jualan bensin, olie, ban bekas dan juga sperpart sepeda motor, dan pumpa sudah ganti pakai pumpa Disel. Akhirnya Istri dan anakku aku boyong pulang ke desa ku di Desa Ledug. Aku kontrak rumah di rumahnya bapak Danu(almarhum). Istriku juga mau dan menerimaku dengan setia  sebagai ukang tambal ban, ini yang menambah semangatku. Sebagai seorang tambal ban aku masih aktif dalam kegiatan sosial, yaitu mendirikan LSM namanya LSM P2M (pusat pemberdayaan masyarakat), pada tahun 2005. banyak kasus yang merugikan masyarakat kecil yang sudah kami selesaikan. Kadang saya harus menutup tambal ban karena harus ngurusi masyarakat, mengadukan ke DPRD, ke kepolisian, walau masih belum dapat masukan sama sekali, sehingga Istri sering Cemberut.

Empat tahun ku jalani sebagai seorang tambal ban, hingga tahun 2005. Ketika itu ada temanku namanya Bapak Suwono, guru SDN ledug 1 yang kebetulan ngajar di Perguruan Tamansiswa Prigen, kerumahku untuk menawari mengajar biologi di SMA Taman Madya , yang kebetulan gurunya cuti hamil. Aku sebenarnya tidak mau , karena sudah lama sekali aku tidak pernah ngajar, mulai lulus tahun 1995 aku tidak pernah mengajar, tapi dia memaksaku, dan mengatakan padaku eman izasah SI-nya . Setelah aku minta pertimbangan pada  istriku, dia mendukung , katanya ! biar dilihat orang dan tidak selalu dihina terus. Akhirnya aku terima ajakannya, itung-itung aku bisa amalkan ilmuku, pada awalnya aku hanya di beri jam mengajar sedikit, sehingga aku masih bisa tambal ban sepulang mengajar, tapi setelah itu aku di beri jam cukup banyak, dan di beri jabatan sebagai wakasek kesiswaan, akhirnya tambal banku tak terurus dan lama kelamaan tambal banku ke hilangan pelanggan , tidak ada masalah yang penting aku sudah punya pekerjaan yang lebih baik dan terhormat, ukuran orang desa yang menjunjung tinggi jabatan seorang guru. Walau gaji ngajar perbulan masih lebih besar tambal ban waktu itu, belum ada sertivikasi.
 Pada tahun 2008 aku di angkat oleh ketua Perguruan Tamansiswa Prigen, Bapak Ki, H.S, Abdullah Assegaff, SH. Menjadi Kepala SMP Taman Dewasa Prigen sampai sekarang . Pada tahun 2008 aku di terima menjadi Anggota Panwas Kabupaten Pasuruan bersama Pak Rudi(kejaksaan, Pak Rony(akademisi), Pak Arif(kepolisian dan Mas Hamami( wartawan) aku sendiri perwakilan Tokoh masyarakat , dan tahun 2009 -2010, aku di terima lagi menjadi Panwas Legislatif dan Presiden melalui seleksi yang sangat ketat.

Pada tahun 2009 , berkat dorongan teman  yang juga ketua panwas Pileg kabupaten pasuruan , Gus Mundzir. aku di ajak kuliah lagi S2. Tapi aku tidak begitu tertarik, karena masih banyak kebutuhan yang lain. Karena terus di desak akhirnya aku ikut kuliah S2 jurusan Managemen Pendidikan di STIE Indonesia Malang. dan alhamdulillah aku lulus tahun 2010.

Pada tahun2011 Istriku membuka kembali usaha Catering yang dulu sempat Vakum, yaitu Mojopahit Catering Service. Alhamdulillah sudah bisa melayani acara- acara besar di perusahaan Via Online. Hampir sebagian besar customer ku dari luar daerah, antara lain Bank Mandiri, Sampoerna, Jawa pos dan sekolah-sekolah yang mau rekreasi ke Taman safari. Dari sini aku  bisa membangun rumah representativ dua lantai, dan alat  transportasi mobil futura untuk kirim catering.  Tapi aku tetap tidak bisa melupakan masalaluku dan aku harus peduli pada kaum duafa yang membutuhkanku.

kegiatan sosial memberikan pelatihan memasak gratis bagi masyarakat dan pelajar

Semoga  pengalamanku ku ini menjadi Inspirasi dan motivasi  buat pembaca, dan jangan menyesali gegagalan, anggaplah kegagalan awal dari proses pembelajaran, yang penting sabar, tawakal, selalu  berdo’a dan berusaha sehingga kita akan Bangkit dari sebuah Kegagalan. INGAT TUHAN TIDAK AKAN MERUBAH NASIB SESEORANG KECUALI  DIRINYA SENDIRI.
Satu keinginan ku yang belum terwujud yaitu aku ingin menjadi orang kaya raya yang dermawan, makanya aku harus, kerje,kerja, kerja, dan do'a, do'a... Insya allah terwujud.
 
Website saya:
www.tamandewasaprigen.weebly.com
www.mojopahitcateringservice.weebly.com

Friday, 1 August 2014

MENCEGAH BULLYING DI SEKOLAH



Mengantisipasi ”bullying” di Sekolah
Di terbitkan Radar bromo
Minggu, 13 juli 2014
            Beberapa Bulan yang lalu kita di hebohkan oleh pemberitaan di media massa maupun media elektronik, tentang adanya dugaan perlakuan kekerasan seksual terhadap salah satu murid TK Internasional di Pondok Indah, yang dilakukan oleh petugas kebersihan di sekolah, dan berita terbaru adanya dugaan keterlibatan  dari salah satu guru di sana.  Pada tanggal 28 April 2014 juga terjadi tindak kekerasan yang menimpah salah satu siswa SDN 09 Makassar bernama Renggo Khadapi yang masih berusia 11 tahun. Mereka meninggal  akibat kekerasan yang di lakukan oleh 3 orang kakak kelasnya, hanya gara-gara menyenggol pisang goreng yang dipegang oleh temannya.
            Beberapa contoh kasus yang terjadi di atas adalah salah satu dari beberapa bentuk  “bullying” yang terjadi terhadap siswa atau pelajar di sekolah. Namun , sebelumnya perlu kita ketahui, apa itu Bullying? Mengapa sampai terjadi ? dan bagaimana  kita mengantisipasinya?
            Bullying atau Penindasan adalah penggunaan kekerasan atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi anak lain. Perilaku ini dapat merupakan suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan. Sebenarnya bullying tidak hanya meliputi kekerasan fisik, seperti memukul, menjambak, menampar, memalak, dll, tetapi juga dapat berbentuk kekerasan verbal, seperti memaki, mengejek, menggosip, dan berbentuk kekerasan psikologis, seperti mengintimidasi, mengucilkan, mendiskriminasikan. Berdasarkan sebuah survei terhadap perlakuan bullying, sebagian korban melaporkan bahwa mereka menerima perlakuan pelecehan secara psikologis(diremehkan). Kekerasan secara fisik, seperti didorong , dipukul, dan ditempeleng lebih umum di kalangan remaja pria. Bullying sering kali terlihat sebagai perilaku pemaksaan atau usaha menyakiti secara fisik ataupun psikologis terhadap seseorang atau kelompok yang lebih”lemah” oleh seseorang atau sekelompok orang yang mempersepsikan dirinya lebih”kuat”. Perbuatan pemaksaan atau menyakiti ini terjadi di dalam sebuah kelompok, misalnya kelompok murid di sekolah. Bisa saja bentuknya adalah tindakan memukul, mendorong, mengejek, mengancam, memalak uang, melecehkan, meneror, menfitnah, penyebaran desas-desus, mendiskriminasi. Dan lain sebagainya. Kini bullying tidak hanya dapat dilakukan secara tatap muka, tetapi bisa lewat E-mail, chatting, internet yang berisi pesan-pesan yang menyinggung perasaan orang lain. Sebenarnya bullying tidak hanya terbatas diantara murid di sekolah, siapapun dan dimanapun dapat mengalami tindakan ini.
            Menurut data PACER Center( organisasi yang bertujan meningkatkan kualitas hidup anak dengan keterbatasan), di Amerika Serikat setiap tahun ada 3,2 juta anak yang jadi korban bullying, dan lebih dari 160.000 anak membolos setiap hari karena trauma dengan teror yang di terima di sekolah. Kadang kalah seorang guru  menyalahkan siswanya bila siswanya bolos, atau tidak masuk sekolah. Katanya, siswa memang malas, nakal , tidak niat sekolah, dan bahkan bila siswa tersebut masuk sekolah,  guru sering marah-marahinya dan memberikan sangsi yang berat. Padahal apa yang dilakukan oleh siswa tidak semuanya benar. Ada banyak kasus yang  menyebabkan siswa tidak masuk sekolah, antara lain; tidak suka dengan guru tertentu  karena sering di marahi, Siswa tidak senang atau takut dengan salah satu mata pelajaran misal, matematika. Adanya penindasan dari temannya atau pemalakan dari temannya hingga korban tidak berani sekolah dan tidak berani laporan karena takut di ancam, atau mungkin permasalahan keluarga, yang semua ini harus di cermati oleh seorang guru /pendidik. Seorang guru harus bisa berlaku bijak terhadap siswa, dan wajib mengetahui akar permasalahan yang terjadi pada anak didiknya , sehingga mereka bisa mengambil sikap dan tindakan yang tepat, tidak selalu mengkambing hitamkan siswanya.
Tanda-tanda Korban Bullying
            Tanda-tanda bullying bisa dilihat dari ; Fisik, Muncul lebam, tergores, atau terluka yang tak bisa di jelaskan, baju dan barang bawaan robek atau rusak; Psikosomatis, Nyeri yang tidak spesifik, sakit kepala, sakit perut, atau muncul seriawan; Perilaku Terkait Sekolah, Rasa takut saat berangkat atau pulang sekolah, perubahan rute kesekolah, takut naik angkutan umum. Minta diantar kesekolah. Tidak mau sekolah atau kehilangan gairah belajar, Pelajaran dan tugas sekolah mulai merosot;Perubahan dalam perilaku sosial, jumlah teman berkurang. Tidak ingin keluar rumah jarang diundang teman untuk datang kerumah mereka; Indikator Emosional, terlihat kesal, mudah marah, tidak bahagia, sendirian, mudah menangis, tertekan, memisahkan dari lingkungan, dan depresi. Berpikir untuk bunuh diri dan perubahan suasana hati atau mood yang negatif. Susah makan, sulit tidur, mimpi buruk, mengompol, menangis saat tidur; Indikator Kesehatan yang memburuk, mudah lelah atau melorot kondisi fisiknya. Menjadi rentan terhadap infeksi dan mudah kambuh penyakitnya. Mengancam atau ingin bunuh diri.
            Perubahan seorang anak tumbuh menjadi remaja pelaku agresi cukup kompleks, dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor; biologis, psikologis, dan sosialkultural. Secara biologis, ada kemungkinan bahwa beberapa anak secara genetik cenderung akan mengembangkan agresi dibandingkan anak yang lain. Dalam bukunnya  Developmental Psychopathology, Wenar & Kerig (2002) menambahkan bahwa agresi yang tinggi pada anak-anak dapat merupakan hasil dari abnormalitas neurologis. Pada masa Pubertas dan krisis identitas, biasanya remaja lalu gemar membentuk kelompok. Kelompok atau Geng remaja sebenarnya sangat normal dan bisa berdampak positif, namun jika orientasi kelompok tersebut menyimpang, hal ini akan menimbulkan banyak masalah. Pada remaja yang pernah mengalami bullying mereka akan “balas dendam” atas perlakuan penolakan dan kekerasan yang pernah dialami sebelumnya (misal di SD atau SMP). Secara Psikologis, anak yang agresif kurang memiliki kontrol diri dan sebenarnya memiliki ketrampilan sosial yang rendah; anak –anak ini memiliki kemampuan perspective taking yang rendah, empati terhadap orang lain yang tidak berkembang, dan salah mengartikan sinyal atau tanda-tanda sosial, mereka yakin bahwa agresi merupakan cara pemecahan masalah yang tepat dan efektif. . Jika kita runut dari lingkungan keluarga anak-anak yang mengembangkan perilaku agresif biasanya tumbuh dari pengasuhan yang tidak kondusif; orang tua menerapkan disiplin yang terlalu keras atau terlalu longgar; konflik suami-istri dan lain sebagainya. Semua ini harus di ketahui oleh seorang pendidik, agar anak tidak semakin brutal atau nakal. Secara Sosiokultural, bullying dipandang sebagai wujud rasa frustasi akibat tekanan hidup dan hasil intimidasi dari lingkungan orang dewasa. Tanpa sadar , lingkungan memberikan referensi kepada remaja bahwa kekerasan bisa menjadi sebuah cara pemecahan masalah. Misalnya saja lingkungan preman yan sehari-hari dapat dilihat di sekitar mereka dan juga aksi kekerasan dari kelompok-kelompok masa. Apalagi  tontonan kekerasan yang disuguhkan melalui media Visual. Walaupun tak kasat mata, budaya feodal dan senioritas pun turut memberikan atmosfer dominasi dan menumbuhkan perilaku menindas. Kebringasan  senior Pencinta Alam Sabhawana di SMAN 3 Jakarta Selatan , juga baru saja terjadi hingga menewaskan dua orang pelajar yaitu Arfiand Caesar Al Irhami, 16 dan Padian Prawiro Dirya, 16. (Jawa pos. 3/ 7).
            Agar tidak terjadi korban bullying di sekolah perlu diantisipasi dan di lakukan pencegahan, paling ideal adalah apabila ada kebijakan dan tindakan terintegrasi yang melibatkan seluruh komponen mulai dari guru , murid, kepala sekolah, sampai orangtua, yang bertujuan untuk menghentikan perilaku bullying dan menjamin rasa aman bagi korban. Sedini mungkin, anak-anak memperoleh lingkungan yang tepat. Keluarga-keluarga semestinya dapat menjadi tempat yang nyaman untuk anak . Anak dapat mengungkapkan pengalaman-pengalaman dan perasaan-perasaannya. Orang tua hendaknya mengevaluasi pola interaksi yang dimiliki selama ini dan menjadi model yang tepat dalam berinteraksi dengan orang lain. Berikan penguatan atau pujian pada perilaku pro sosial yang ditunjukkan oleh anak. Selanjutnya dorong anak untuk mengembangkan bakat atau minatnya dalam kegiatan-kegiatan dan orang tua tetap harus berkomunikasi dengan guru jika anak menunjukkan adanya masalah yang bersumber dari sekolah. Selama ini, kebanyakan guru tidak terlalu memperhatikan apa yang terjadi di antara muri-muridnya. Sangat penting bahwa seorang guru harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan mengenai pencegahan dan cara mengatasi bullying. Sekolah perlu memberikan program anti-bullying, antar lain dengan cara menggiatkan pengawasan dan memberikan sanksi secara tepat kepada pelaku, atau melakukan kampanye melalui berbagai cara. Bila perlu masukkan materi bullying ke dalam pembelajaran misal, pelajaran PKn, Agama, Etika atau pelajaran lain, sehingga akan berdampak positif bagi pengembangan pribadi  para siswa.