Rabu, 26 Oktober 2011

REFLEKSI HARI SUMPAH PEMUDA

REFLEKSI HARI SUMPAH PEMUDA 28 OKTOBER 1928
OLEH : SONHAJI MUTIALLAH, M. MPd

KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA,
MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE,
TANAH INDONESIA.

KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA,
MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE,
BANGSA INDONESIA.

KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN,
BAHASA
Teks di atas adalah merupakan rumusan hasil konggres pemuda ke-2 pada 28 Oktober 1928, yang terkenal dengan sumpah setia pemuda atau dengan sebutan Sumpah Pemuda.Yang sebentar lagi di peringati seluruh bangsa Indonesia sebagai hari Sumpah Pemuda. Saya masih ingat ketika masih sekolah dasar di wajibkan oleh salah seorang guru untuk menghafal teks sumpah pemuda ,bagi  siswa yang tidak hafal disuruh berdiri di muka kelas, sehingga sampai sekarang saya masih hafal teks Sumpah Pemuda tersebut. Tapi ,sekarang saya lihat banyak anak-anak sekolah bahkan hampir semua tidak hafal teks Sumpah Pemuda apalagi menghayati artinya. Ini memang ironis.

Bagi bangsa Indonesia , Sumpah Pemuda ini juga merupakan entry point menuju pintu gerbang kemerdekaan Indonesia 1945. Sumpah Pemuda tersebut telah menjadikan adanya kesamaan keinginan untuk merdeka dari cengkraman penjajah.

Oleh karena itu, sangatlah tepat bahwa Sumpah Pemuda itu menjadi fondasi dasar tercapainya Kemerdekaan Indonesia. Seberapa besarkah kita masih mengingat peristiwa Sumpah Pemuda , khususnya di kalangan generasi muda sekarang ?

Mungkin bagi mereka yang sudah dewasa masih mengingat bagaimana cerita perjuangan hingga pahlawan kita bisa melahirkan Hari Sumpah Pemuda. Tidak hanya cerita, di sekolah pun dalam pelajaran sejarah dikupas secara mendalam, bahkan isi dari Sumpah Pemuda itu wajib dihapalkan oleh setiap siswa.

Saat ini generasi muda banyak yang justru melupakan makna Sumpah Pemuda itu. Nilai-nilai kesatuan dan Persatuan yang ditunjukkan para pemuda 83 tahun yang lalu sudah tidak tergambarkan saat ini. Kenakalan remaja,aksi tawuran banyak melibatkan kalangan generasi muda.

Yang lebih memprihatinkan lagi. Aksi tawuran ini dilakukan pelajar dan mahasiswa yang notabene sebagai generasi penerus bangsa. Aksi itu tidak hanya terjadi di kota-kota besar, seperti Jakarta, tetapi mulai melanda kota –kota kecil di Indonesia.

Kita pasti merasa gerah melihat aksi tawuran pelajar ,tidak hanya dilakukan oleh pelajar SMU tetapi juga mulai melanda hingga sekolah lanjutan pertama. Dan yang lebih memprihatinkan lagi bila kita menyaksikan media masa , aksi tawuran juga di lakukan oleh Mahasiswa,yang seharusnya memiliki intelektualitas yang tinggi sehingga tidak perlu menyelesaikan masalah dengan tawuran atau anarkhi.

Entah apa yang menjadi pemicunya sehingga mereka bisa berbuat seperti itu? Jawabannya memang klise, hal ini akibat dari perkembangan jaman, dan perkembangan jaman itu juga berdampak pada perkembangan pola pikir.
Tapi, apakah pola pikir itu serta merta juga membuat generasi muda di negeri ini melupakan nilai-nilai sejarah? Diyakini generasi muda saat ini banyak yang tidak tahu jika kita menanyakan siapa saja tokoh yang terlibat pada sumpah pemuda 83 tahun yang lalu.

Sangat terasa dalam hati sanubari saya bahwa putusan kongres yang akhirnya mengalami rekonstruksi simbol  itu dimaksudkan untuk memotivasi, meningkatkan rasa memiliki, meningkatkan rasa kebangsaan. Namun, terasa juga bahwa semakin lama Sumpah Pemuda diperlakukan tak ubahnya sebagai simbol semata. Ketika globalissi merajalela, tak sadar, kita menyerahkan sesuatu milik kita dan kembali mengalami penjajahan dengan gaya yang berbeda.

Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia, proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.

Musuh yang kita hadapi sekarang beda dengan jaman dulu. Sumpah Pemuda bertujuan untuk menyatukan bangsa Indonesa,yang tertindas dari kaum kolonialis, agar kita merdeka baik harkat dan martabat.Tapi perjuangan bangsa Indonesia sekarang adalah memerangi newkapitalis yang mulai menjajah bangsa Indonesia. Korupsi adalah musuh besar bangsa indonesia saat ini yang harus kita hadapi. Hampir semua sendi kehidupan di Indonesia terjangkit virus korupsi, mulai birokrasi, dewan, aktifis dan lain-lain . Para pimpinan jarang memikirkan rakyat miskin, mereka hanya memikirkan dirinya, keluarga, dan kelompoknya. Maka tidak heran kalau masih banyak rakyat yang miskin, biaya pendidikan mahal, kesehatan juga mahal, belum lagi banyak pengangguaran. Ini jelas lepas dari makna Sumpah Pemuda yang bertujuan mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia.

Menyikapi permasalahan ini, sudah selayaknya kita meminta kepada kalangan generasi muda , birokrasi, dewan, dan seluruh rakyat Indonesai ,agar nilai-nilai Sumpah Pemuda harus terus dihayati, dalam menghadapi berbagai persoalan nasional maupun internasional.
Sumpah Pemuda diwujudkan untuk menyatukan satu rasa tanggung jawab dan kebersamaan  untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan negara.
Oleh karena itu, generasi muda diminta untuk terus memegang kemurnian Sumpah Pemuda sebagai alat pemersatu Bangsa. Di sisi lain, sekolah juga harus ikut bertanggung jawab guna menjaga kemurnian Sumpah Pemuda, dengan mengamalkan sifat cinta Tanah Air.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar